Minggu, 06 Desember 2009

Kita bukan menjadi sahabat kecuali mencoba menjadi sahabat

Kita bukan menjadi sahabat kecuali mencoba menjadi sahabat

Kita tidak pernah saling menyayangi, kecuali selalu berusaha menyayangi
Kita tidak pernah saling menghargai, kecuali selalu berusaha untuk menghargai
Kau dan Aku takkan sekalipun sama-sama mengerti, kecuali mencoba menjadi pengertian setiap saat
Kau dan aku bahkan enggan sama-sama menerima, kecuali mencoba menyesuaikan setiap waktu...

Beginilah cara hati kita ditautkan
Momen-momen yang penuh dengan pemahaman
Beginilah kasih sayang kita dianyam
Di atas rumitnya cinta dan penghormatan
Beginilah persahabatan kita dibuat
Usaha yang takkan mengenal kata habisnya...

Mencoba menjadi sahabat adalah perjalanan tanpa henti kita
Melelahkan, tapi bersamamu membuatnya mudah
Mencoba menjadi sahabat adalah labirin ujian kita
Menyulitkan, tapi denganmu menjadikannya lapang
Kita tak mau jadi sahabat kecuali mencoba menjadi sahabat sepanjang waktu
Karena setelah menjadi sahabat semua bisa berakhir, tapi mencoba menjadi sahabat adalah selamanya
Dan dengan cara ini ia bertahan...


Especially to Nina and whole of my best friends ever, who’s been walking with me understanding this process.

****************************************************************************************
To my entire best friends whom I love them so much; Thank you for being such important parts of my life. One of them is the very best friend ever on earth. Plenty of them share craziness with me. A few of them hold trust on me. In a small group of these people dream the same dream as I do. A lot of them together with Allah always love me unconditionally. Two or more of them cheer me up by their wise.
I <3 U
*~Nina, Memey, Erline, Pikri, Potter, Irma, Sam, Isna, Ninis, Aspi, Idah, Mada, Kak Aina~*
****************************************************************************************










Menjadi sahabat adalah proses seumur hidup (A lifetime process)

Membaca tulisan Isna Izama Hilmi “The Ultimate Friendship” membuatku mengingat kembali tentang perasaanku sendiri. Betapa bertahun-tahun aku berusaha memahaminya. Bagaimana persahabatan itu ada dan terjadi. Ku kira setelah memenangkan hati sahabatku maka proses itu selesai sudah, tapi aku salah dan aku banyak melakukan kesalahan. Justru inilah saat-saat dimulainya hal yang bernama “persahabatan”.
Ketika kau telah menjadi sahabat bagi orang lain, itu bisa menjadikanmu seorang momok*, momok yang membuatmu kehilangan kendali akan siapa kau dan siapa sahabatmu sebenarnya. Sahabat-sahabat adalah antar individu dan jiwa yang berbeda. Apapun yang terjadi ia takkan pernah sama atau benar-benar menyatu. Ada suatu jarak yang disebabkan oleh ego-ego* pribadi bernama privasi* yang meminta kita untuk membuat batasan-batasan. Inilah sebabnya kenapa dia disebut demikian sakral dan agung “persahabatan”, sesuatu yang memerlukan pemahaman yang dalam, mungkin juga intelegensia. Sesuatu yang nampaknya tak boleh jauh-jauh dari kesuciannya yang punya daya merekatkan individu-individu. Karena ada selalu ada usaha tanpa henti untuk menjadikannya baik dan indah bahkan saat kerumitan muncul.
Dibutuhkan alasan-alasan atau bahkan tidak sama sekali untuk mencintai sahabat-sahabat kita. Tapi selalu ada alasan-alasan untuk harus menghormati dan menghargai mereka. Inilah yang seringnya kita abaikan lalu melupakan sampai batasan mana kita dapat masuk ke dalam dunia sahabat-sahabat kita. Karena persahabatan itu seringnya hancur sebab hilangnya penghargaan, sebab sikap kita yang memperlakukan sahabat layaknya tawanan perang*.
Sahabat-sahabat datang dan pergi, ada yang kembali, atau hilang sama sekali. Beberapa diantara mereka bahkan telah salah kita artikan sebagai sahabat. Semakin erat nilai hubungan yang terjalin, maka semakin besar pula ego yang mengendalikan persahabatan ini. Disinilah proses penting itu bagi kita. Menjadi sahabat bisa mengantarkan kita pada ego; sikap suka ikut campur, ingin tahu segala hal, berhak memutuskan atau tidak, membuat penilaian, menentukan standar, menimbang benar-salah, mengukur baik-tidak, menjadi pahlawan di siang bolong, sampai menciptakan kloning diri kita dengan beragam paksaan terhadap sahabat karena ego telah berkuasa dalam lingkaran apinya. Mencoba menjadi sahabat adalah perihal yang berbeda dengan menjadi sahabat. Dengan begini kita akan selalu menjadi seseorang yang berusaha menjaga hati sahabat-sahabat kita setiap saat. Itulah sebabnya kenapa persahabatan adalah suatu proses seumur hidup dalam mencintai, memahami, menerima, serta menyesuaikan antar satu dengan lainnya.
Sahabat datang seperti sebuah kejutan, begitu didapatkan harus dijaga apik-apik, mereka adalah kado-kado terindah dari Tuhan. Dan ini tentang adaptasi dua arah seumur hidup kita selama terus berinteraksi. Berusaha membuat sahabat kita merasa bahagia tidak akan menjadi sesuatu yang penting tanpa berusaha membuat mereka merasa berharga terlebih dahulu. Dan persahabatan bukan tentang materi, bukan tentang fisik, bukan tentang genetic, bukan tentang isme, apalagi simbiosis mutualisme. Persahabatan yang agung adalah tentang jiwa dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Persahabatan itu seperti keramik China dan kristal Perancis, ia begitu indah sekaligus begitu rapuh.

Nurul Sutarmaji Khaliq
November 4th 2009 - 07:35 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar