Jumat, 23 Oktober 2009

Diva


Aku kenal para wanita yang pernah ku lihat selama bertahun-tahun semenjak dulu bahkan tetap ada hingga kini, yang kisah cinta dan garis kehidupannya tak ditorehkan penuh haru-biru dalam novel-novel Austen ataupun Mira. W. Yang wajah-wajahnya tak muncul dalam tabloid dan majalah wanita dalam efek foto morning glow dan indian summer yang penuh kesan. Setiap kali melihat mereka terbersit dalam benakku apakah mereka tidak pernah menginginkan hidup yang lebih dari sekedar panasnya sinar matahari, tajamnya air hujan bulan Februari, dan perihnya kerikil di bawah telapak-telapak kaki yang telanjang. Pasti banyak wanita menginginkan mendapat apapun yang mereka mau, tanpa ada istilah kemiskinan, belitan ekonomi, serta suara anak-anak yang menangis di telinga oleh sebab kelaparan atau minta dibelikan baju seragam baru, tapi mungkin saja banyak yang tidak berpengharapan demikian besarnya. Mungkin tidak semua wanita mau bermimpi duduk dengan nyaman dan sejuk di mobil mewah merek luar negeri kemanapun ingin pergi dengan anak-anak jalanan sebagai penggemar fanatik yang mengharapkan uang ratusan jatuh dari balik kaca jendela mobil yang menyilaukan setiap mata yang memandangnya, dan tidak semua wanita ingin bermimpi bisa menjadi seorang shopaholic meskipun hanya sehari.
Hidup penuh kesenangan!
Mungkin definisi kebahagiaan pada tiap-tiap orang memiliki arti yang berbeda-beda.Yang nyata, para wanita-wanita inilah yang sungguhnya lebih sadar akan istilah hidup dalam realita.
Nenek nenek tua duduk di atas bangku kecilnya yang terbuat dari kayu sederhana dengan kaki berlumpur terbungkus sandal jepit berlubang yang sama renta dengan dirinya, terlihat penuh iba menjajakan bermacam-macam kue tradisional produksi rumah tangga, bunga rampai tujuh rupa atau berjaja sayuran hasil pertanian sendiri di pasar-pasar tradisional dalam keranjang-keranjang rotan dan bambu tua sewarna jelaga. Sadari tentang para wanita bersepeda lama yang menempuh limabelas hingga duapuluh kilometer pulang-pergi sehari untuk bekerja sebagai buruh-buruh pabrik cekatan berjam kerja tinggi namun berupah rendah, mencoba menjadi pengurus rumah tangga sekaligus penopang keluarga yang bekerja keras melawan takdirnya.
Pagi yang cantik. Langit belum lagi menyingkap wajah matahari. Hari yang begitu dingin. Di luar jendela kamar aku melihat di pagi yang buta, bayangan-bayangan gelap manusia satu persatu berjalan setapak demi setapak. Aku tahu bahwa hawa teramat dingin di luar sana dan tiba-tiba saja aku merasa bangga pada mereka hari itu. Wanita-wanita yang kuat. Wanita-wanita yang perkasa. Sosok dan semangat mereka begitu tak terpatahkan. Dengan sabar menapaki jalan mengemban tugas. Tak masalah apa yang akan mereka kerjakan nanti, karena tugas-tugas yang berbeda senantiasa menanti mereka dengan setia esok, lusa dan esok lusanya lagi. Tapi hari itu, aku melihat mereka dengan cangkul di bahu maupun arit di tangan.
Hari ini mereka bekerja di bawah panasnya terik matahari membakar hingga ke kulit jangat. Setelah delapan jam bekerja diantara semak berduri dan anak-anak tanaman karet, mencoba membersihkan gulma yang menyelimuti permukaan tanahnya. Menikmati makan siang serta istirahat dzuhur sebelum mulai bekerja kembali. Keringat mengalir di ketegaran wajah mereka yang tanpa cela. Lekat noda tanah pada pakaian seolah takkan pernah jadi najis dan halal adanya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka rasakan saat itu sekeras apapun aku berusaha mencerna. Tawa mereka sangat keras dan bicara mereka juga lantang mengalahkan cengkeraman rasa capai di badan.
Apa yang mereka harapkan dari apa yang telah mereka kerjakan? Tidak ada, kecuali sedikit uang untuk membuat dapur mereka terus berasap, mengirim anak-anak mereka ke sekolah negeri yang murah, dan membuat suami-suami tercinta yang sama lelahnya masih dapat menyisihkan uang untuk menghisap rokok kretek bertembakau kualitas rendah mereka setiap hari. Kesadaran akan tanggung jawab yang rendah terhadap beban pekerjaan menjadikan mereka menerima berapapun upah yang diberikan betapapun pula lelahnya menghabiskan satu hari di bawah terik matahari. Tapi, tak semua orang kan bisa mendapatkan penawaran sebaik yang perusahaan Starbucks Coffee lakukan dengan memberikan standar gaji yang yang baik juga asuransi kepada pegawai paruh waktu mereka. Bayangkan saja, bagaimana cara mereka memperlakukan para pegawai tetapnya. Hingga ketika suatu hari Oprah menanyakan kepa para audiencenya apakah seorang pekerja POM bensin dan anaknya pantas mendapatkan asuransi kesehatan atau tidak maka suara kecil di hatiku langsung menjawab “pantas”.
Dan para ibu yang hebat kita telah dibayar begitu rendah di bawah upah minimum regional dan masih berterima kasih untuk itu. Sebagian dari mereka itu ada pula yang bekerja tidak tetap seperti ini untuk mengisi waktu luang mereka selama musim tanam padi belum tiba. Dan tentu saja semuanya masih belum mampu membantu mereka. Kian hari kiranya kian sulit untuk merasa cukup bagi mereka karena tampaknya setiap kebutuhan sandang dan pangan semakin di luar jangkauan, sejenak aku menyadari keadaan yang mereka hadapi. Dan sekali lagi aku bertanya penuh keingintahuan akan keceriaan yang terdengar lewat senda gurau mereka yang begitu lantangnya.
Namun di hari yang lain lagi, melihat kilasan bayangan kabur mereka pergi bekerja di tengah selimut kabut pagi buta hingga aku bahkan hanya bisa mendengar gemeretak kerikil yang terinjak kaki-kaki tak beralas hingga menjadi salah satu bunyi-bunyian tercantik yang pernah ku dengar. Melihat mereka bekerja dibawah teriknya matahari bulan Juli hingga tak mampu lagi peduli pada indahnya daun-daun karet yang berubah kuning dan oranye layaknya musim gugur datang lebih awal tahun ini, serta melihat mereka berjalan pulang di bawah deras serta tajamnya air hujan sore bulan Februari. Melihat mereka berjalan dengan mengenakan topi purun lebar sambil mengacuhkan cantiknya kehijauan tunas-tunas daun baru kebun karet di Maret itu. Iring-iringan yang anggun sekali bagai parodi karnival musim semi para petani. Kerinduan sepanjang jalan untuk menemui anak-anak yang telah menunggu juga suami yang belum diketahui apakah telah berada di rumah atau belum. Tak ada sandal apalagi sepatu sebagai alas, hanya kaki telanjang pecah-pecah bercampur lembeknya tanah basah. Aku membayangkan betapa lelahnya mereka hari itu dan segera aku merasa begitu beruntung. Meskipun demikian aku masih bisa melihat senyum dan tawa mewarnai perjalanan pada wajah-wajah bersahaja mereka. Alam pun memberi para wanita itu penghargaan dengan hangatnya matahari yang langsung bersinar lembut dan pelangi terbaik sore itu setelah mereka sampai di depan pintu.
Ada begitu banyak permasalahan harus dihadapi oleh wanita khususnya wanita pekerja di seluruh dunia yang terutama lagi di negara ini. Mulai dari standar upah yang di bawah rata-rata, diskrimasi di tempat kerja hingga pelecehan seksual. Masih banyak wanita di sekitar kita yang hak serta perlindungannya cenderung terabaikan namun lebih banyak lagi dari kita yang menolak membuka mata untuk melihatnya. Kaum hawa patut kita beri penghargaan serta dukungan demi membangkitkan kesadaran mengenai kedudukannya dalam strata keluarga, sosial, dan negara, meskipun aku sangsi bahwa mereka sungguh-sungguh menyadarinya. Wanita haruslah memperkuat posisinya agar suara mereka dapat memberi sumbangsih terhadap kemajuan umat manusia.
Sebagaimana yang telah Ayahku katakan suatu hari kepadaku.
“Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang terbaik yang dapat ayah lakukan sejauh ini adalah dengan memberi pekerjaan kepada mereka semampu yang bisa diberikan dan menghargai mereka sebagaimana setiap individu juga memiliki perasaan berharga. Kita bukanlah pembuat kebijakan, pemilik perusahaan maupun pemegang saham nak, tapi kita bisa berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang manusia terhadap manusia lainnya. Walaupun kita tahu bahwa mungkin apa yang kita berikan belumlah cukup, namun pelajarilah ucapan terima kasih yang terlontar dari bibir mereka serta keramah-tamahan nya padamu atas bantuan itu. Lihatlah! Jangan sekedar dengarkan saja, bahwa ada rasa syukur kepada Tuhan dan penghargaan bagimu yang teramat dalam di sana. Belajarlah bersyukur dan tata cara berterima kasih dari orang-orang yang sederhana itu,” demikian kata ayah pada putri delapanbelas tahunnya waktu itu.
Saat aku melihat mereka sekali lagi di bawah hujan dengan kata-kata ayah yang bergaung di dalam tubuhku, saat aku tidak bisa melihat sinar matahari di sore yang gelap itu, aku dapat merasakan hatiku melonjak bahagia karena melihat mereka lewat di depan rumah. Telah ku temukan senyum tulus memesona datang dari wajah-wajah mereka di balik teralis jendela kamarku. Berdiri dengan nyamannya di dalam kamar yang hangat sambil terus memperhatikan mereka yang sedang menjauh berlalu ku dapati perasaan damai yang tak biasa. Aku tersenyum dan mengangguk membalas senyuman serta anggukan ramah mereka padaku. Para wanita dan ibu seperti merekalah yang menjadi tonggak-tonggak berdirinya kelangsungan negara ini lewat anak-anaknya yang menempa pendidikan di sekolah negeri murah, orang-orang seperti merekalah yang sesungguhnya menjadi pejuang devisa kita yang harus menghadapi berbagai kerumitan dan ketidakadilan.
Tidak ada alasan untuk tidak merasa bangga pada pribadi-pribadi kuat sedemikian rupa baik kemarin, sekarang, dan yang akan datang. Di lain waktu aku tidak akan bosan melihat keindahan yang seperti ini. Tersenyum dan mengangguk untuk membalas dan menghormati sikap ramah bersahaja sosok-sosok kuat ini kapan saja. Pernah mengenal serta menyaksikan seserpih bagian dari hidup mereka adalah salah satu hal terbaik dalam hidupku yang pernah ada. Merekalah yang sejatinya menjadi DIVA di hati kita sepanjang masa. Kenangan mereka yang mewarnai indahnya warna empat musim perkebunan karet mengisi tempat khusus di hatiku selamanya.

Nurul Sutarmaji
17 Juni_18.49pm 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar